Monday, 15 July 2013

Ini pertama kalinya saya ke Pulau Sambu. Sebelum-sebelumnya saya tidak pernah tahu secara detil tentang pulau sambu. Tahunya ya cuma: pulau sambu itu pangkalan BBM Pertamina dan yang tinggal di sana ya orang-orang pertamina. Udah. Dan di luar ekspektasi saya, Pulau yang hanya ‘sepelemparan batu’ dari singapura ini, ternyata indah!
Dalam rangkaian jalan-jalan ke belakang padang akhir tahun lalu, kami mampir ke pulau sambu. Kalau berangkat dari pelabuhan pancung sekupang, tarif ke pulau sambu sama dengan ke belakang padang; Rp.10.000/orang. Yang beda tarif pulangnya; Rp.80.000/pancung. Sistem charter.
Pertama ‘mendarat’ di pulau sambu, yang pertama kami cari adalah masjid. Kebetulan hari itu sudah masuk waktu zuhur. Masjid terbesar dan satu-satunya di Pulau Sambu terletak di atas bukit, namanya masjid Al Muhajirin. Pemandangan dari serambi masjid ini mantap, kawan! Di sebelah barat kita bisa melihat Pulau Belakang Padang, sedangkan di sebelah timur kita bisa melihat pulau batam berdampingan dengan  selat singapura yang menghampar luas.
Selain pemandangannya yang mantap, masjid al muhajirin sendiri mantap betul. Ruangan shalatnya full AC, bikin tidur siang shalat zuhur dan ashar kami hari itu lebih khusyuk dan syahdu. *halah*
Satu hal yang bikin saya berpikir negatif, AC masjid tersebut dibiarkan tetap hidup sepanjang hari, padahal sedang tidak ada yang sholat atau beraktivitas di dalam masjid. Apa ndak sayang listrik ya? Apa karena masjid dan pulau ini miliknya pertamina? Sehingga bisa befoya-foya dengan energi listrik?
Fyi, Pulau Sambu merupakan pulau kecil yang dijadikan depot atau pangkalan BBM oleh Pertamina. Kalau kita ke belakang padang, kita bisa melihat puluhan tangki BBM berukuran dewa di pulau sambu. Konon, pulau ini sudah dibangun sejak tahun 1897, jauuuh sebelum Batam dibangun jadi kota tahun 1971.Wikipedia saja memajang foto pulau sambu dari tahun 1928 yang kala itu sudah tampak ramai.
Pulau Sambu mencapai masa keemasannya di era 1970-an bersamaan dengan kejayaan Pertamina. Di masa itu, pulau mungil yang bisa kita kelilingi berjalan kaki sekitar satu jam ini punya segala fasilitas layaknya sebuah kota, seperti kantor pos, kantor kejaksaan, hingga bioskop! Bayangkan, pulau sambu sudah punya bioskop ketika batam masih hutan belantara. Cemana la ya kan, secara punya pertamina. Yang tinggal di pulau sambu pun tak lain ya keluarga pegawai-pegawai pertamina sendiri, dari bos besar sampai pegawai rendahan.
Dan jalan-jalan ke Pulau Sambu kemarin itu terasa seperti wisata sejarah saja. Kami menyaksikan sisa-sisa kejayaan Pertamina. Di mana-mana ada rumah kosong dan gedung tua, yang ditinggal penghuninya pasca meredupnya ‘sinar’ pulau sambu pertengahan 1990-an. Saya jadi teringat cerita Andrea Hirata di tetralogi Laskar Pelangi, di situ dia berkisah tentang sisa-sisa kejayaan PN Timah di Belitong. Nah yang ini sisa-sisa kejayaan Pertamina.
Usai shalat zuhur berjamaah di Masjil Al Muhajirin kami bergerak menuju pantai di sisi timur pulau sambu. Tak jauh, hanya 200 meter menuruni bukit. Di sepanjang kiri dan kanan jalan berderetlah bekas rumah-rumah dinas dan mess pertamina yang kosong tanpa penghuni. Sebagian rusak dimakan sepi. Sayang sekali.
Makin sayang ketika kami tiba di pantai, karena di sana banyak villa-villa kosong. Padahal villanya bagus-bagus, didesain ala-ala keraton melayu-belanda gitu. Daripada kosong, mbok ya sini biar saya yang nempatin.. ƪ(‾ε‾)ʃ
Pantai berpasir di pulau sambu lumayan bagus. Tak terlalu panjang, hanya 150 meter. Sesekali beberapa lapis ombak hasil lintasan ferry Batam-Singapura datang menepi, bikin pantai tampak lebih indah. Seandainya kami datang lebih dulu ke pulau sambu, niscaya kami akan lebih memilih nyebur di laut pulau sambu daripada pulau lengkana.
Dan sama seperti di pulau lengkana, dari tepian pantai pulau sambu ini singapura sudah membayang-bayangi. Gedung-gedung pencakar langit dari negeri jiran itu tampak berjoget riang irama melayu. 14 km jauhnya.
Maka di sore yang mendung itu, kami berempat berjalan santai menyusuri pesisir timur pulau sambu. Bergerak dari selatan ke ujung utara. Agak di utara, kami ketemu lapangan bola yang luas. Dan di utaranya lagi ketemu golf driving range. Gilak, pulau kecik nonet gini punya golf driving range sendiri.. *speechless*
Begitulah, pulau pangkalan BBM ini benar-benar terasa seperti pulau wisata. Asri, terawat, dan indah. Apalagi sore itu turisnya cuma kami. Jadi berasa spesial. Kalau anda butuh acara jalan-jalan yang tenang penuh kedamaian di sekitar batam, pulau sambu bisa dijadikan pilihan. 

No comments: